Guru Sebagai Tokoh Sentral
Dalam dunia pendidikan guru merupakan tokoh sentral. Tinggirendahnya kualitas pendidikan sangat ditentukan oleh kemampuan guru. Apalagi di negara berkembang semacam Indonesia dimana tugas guru bukan sekedar pengajar yang tugas utamanya adalah men transfer ilmu pengetahuan, namun juga sebagai pendidik yang tugasnya adalah membentuk kepribadian dan watak para peserta didik. Oleh karena itu, untuk menjadi seorang guru, orang tidak saja harus mempunyai kompetensi keilmuan dan akademis, tetapi juga kualifikasi moral/ kepribadian pedagogik dan sosial. Menurut Zakiyah Daradjat, ada lima kompetensi yang harus dimiliki seorang guru. Pertama, kewenangan formal yaitu kemampuan akademik yang diperoleh seorang guru dari lembaga pendidikan formal, seperti WN, IKIP, dan sebagainya. Kedua, mempunyai pemahaman tentang kurikulum. Ketiga, mempunyai penguasaan akan metode pengajaran. Keempat, mempunyai pemahaman t~ntang ilmu jiwa (psikologi) peserta didik. Dan, kelima, mempunyai kemampuan mengelola kelas. Dalam Islam, guru merupakan profesi yang sangat mulia, karena pendidikan adalah salah satu tema sentral Islam. Nabi Muhammad sendiri sering disebut sebagai pendidik kemanusiaan (educator of mankind).
Bagi Islam, seorang guru bukan hanya sekedar tenaga pengajar, namun sekaligus sebagai pendidik. Oleh karena itu, dalam Islam seseorang dapat menjadi guru bukan hanya karena ia telah memenuhi kualifikasi keilmuan dan akademis saja, namun lebih penting lagi ia harus terpuji akhlaknya. Dengan demikian, seorang guru bukan hanya mengajarkan ilmu-ilmu pengetahuan saja, tetapi lebih penting lagi yaitu membentuk watak anak didiknya dengan akhlak dan ajaran-ajaran Islam.
Selanjutnya, jika mengikuti petunjuk al-Qur'an, menurut Abuddin Nata bahwa yang menjadi pendidik dalam pendidikan Islam secara garis besarnya ada em pat. Pertama, adalah T uhan, Allah SWf sendiri. Sebagai guru, Allah swr menginginkan agar umat man usia menjadi baik dan bahagia hidup di dunia dan akhirat. Karena itu, ia harus memiliki etik dan bekal pengetahuan. Untuk mencapai tujuan tersebut, Allah mengirimkan Nabi-nabi untuk menyampaikan ajaran Allah kepada umat manusia. Ajaran yang diterima umat manusia itu dapat memberi petunjuk mengenai kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.
Nabi yang terakhir diutus adalah Nabi Muhammad SAW Pembinaan Allah terhadap beliau dapat dilihat dalam firman-firman yang diturunkan kepadanya. Dari berbagai ayat al-Qur' an yang membicarakan mengenai kedudukan Allah sebagai guru dapat dipahami, Allah memiliki pengetahuan
yang amat luas (al-'alim). Ia juga sebagai Pencipta. Ia memberi isyarat bahwa seorang guru haruslah sebagai peneliti yang dapat menemukan temuan-temuan baru. Sifat lain yang dimiliki Allah sebagai guru adalah Pemurah dalam arti tidak kikir dengan ilmu-Nya; Maha Tinggi, Penentu, Pembimbing, Penumbuh prakarsa, mengetahui kesungguhan hati manusia yang beribadat kepada-Nya, mengetahui siapa yang buruk, menguasai cara-cara (metode) dalam membina umat-Nya antara lain melalui penegasan, perintah, pemberitahuan, kisah, sumpah, pencelaan, hukuman, keteladanan, pembantahan,
mengemukakan teka-teki, mengajukan pertanyaan, memperingatkan, mengutuk, dan meminta perhatian. (Lihat antara lain : Q.S. al-'Alaq. AlQalam, al-Muzammil al-Mudatsir, al-Lahab, al-Takwir, dan al-A'lay). Selanjutnya, yang kedua sebagai guru menurut al-Qur' an adalah Nabi Muhammad SAW Sejalan dengan pembinaan yang dilakukan Allah terhadap Nabi Muhammad SAW, Allah juga meminta beliau agar membina masyarakat, dengan perintah untuk berdakwah (Q.S. al-Mudatsir: 74).
Dalam hubungan ini menarik yang dikatakan Quraish Shihab, bahwa Rasulullah yang dalam hal ini bertindak sebagai penerima al-Qur' an, bertugas untuk menyampaikan petunjuk-petunjuk yang terdapat dalam alQur'an tersebut, dilanjutkan dengan mensucikan dan mengajarkan manusia. (Q.S. 67:2). Mensucikan dapat diidentikkan dengan mendidik, sedangkan mengajar tidak lain kecuali mengisi benak anak didik dengan pengetahuan yang berkaitan dengan alam metafisika dan fisika. Hal ini pada intinya menegaskan bahwa kedudukan Nabi sebagai pendidik dan guru ditunjuk
langsung oleh Allah (1992: 172).
Sebagai guru, Nabi memulai pendidikannya kepada anggota keluarganya yang terdekat, dilanjutkan pada orang-orang yang ada di sekitarnya, termasuk para pemuka Quraisy. Sejarah mencatat bahwa tugas tersebut dapat dilaksanakan oleh Nabi dengan hasil yang memuaskan. Hal ini tidak dapat dilepaskan dari metode yang digunakan Nabi dalam mendidik tersebut, yaitu dengan cara menyayangi, keteladanan yang baik, mengatasi penderitaan, dan masalah yang dihadapi umat, memberi ibarat, contoh dan lain sebagainya yang am at menarik perhatian masyarakat.
Selanjutnya, al-Qur'an menyebutkan pendidik atau guru yang ketiga adalah orang tua. Al-Qur' an menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki orang tua sebagai guru, yaitu memiliki hikmah atau kesadaran tentang kebenaran yang diperoleh melalui ilmu dan rasio; dapat bersyukur kepada Allah, suka menasehati anaknya agar menjalankan shalat, sabar dalam menghadapi penderitaan (Lihat QS Luqman, 31: 12-19).
Sebagai pendidik yang keempat menurut al-Qur'an adalah orang lain. Informasi yang amat jelas tentang hal ini antara lain dapat dilihat dalam alQur'an surat al-Kahfi ayat 60-82. Di dalam ayat tersebut disebutkan mengenai Nabi Musa yang diperintahkan agar mengikuti Nabi Khidir dan belajar kepadanya. Sebagai guru, Nabi Khidir menduga Nabi Musa pasti tidak mampu bersabar, karena tidak memiliki ilmu. Oleh karena itu Nabi Musa diminta berjanji dan berlaku sabar. Selain itu Nabi Khidir meminta Nabi Musa agar tidak bertanya sebelum dijelaskan.
Dengan demikian dalam al-Qur' an ada em pat yang menjadi pendidik, yaitu : 1) Allah SWf., 2) para Nabi, 3) kedua orang tua, dan 4) orang lain. Orang yang keempat inilah yang selanjutnya disebut guru. Bergesernya mendidik dari kedua orang tua kepada orang lain (guru) lebih lanjut dijelaskan oleh Ahmad Tafsir. Menurutnya, pada mulanya, tugas mendidik itu adalah murni tugas kedua orang tua; jadi cidak perlu orang tua mengirimkan anaknya ke sekolah untuk diajar oleh guru. Akan tetapi, karena perkembangan pengetahuan, ketrampilan, sikap serta kebutuhan hidup sudah sedemikian luas, dalam dan rumit, maka orang tua tidak mampu lagi melaksanakannya sendiri tugas-tugas mendidik anak. Selain tidak mampu karena luasnya perkembangan pengetahuan dan ketrampilan, mendidik anak di rumah sekarang ini amat tidak ekonomis. Dapat dibayangkan, seandainya orang tua mendidik anaknya sejak tingkat dasar sampai perguruan tinggi di rumah, oleh dirinya sendiri, sekalipun orang tuanya mampu menyelenggarakan itu, apa yang akan terjadi? Mahal, tidak efisien dan mungkin juga tidak efektif>.
Sebagai pengganti fungsi kenabian, maka tugas guru sangat besar, apalagi dalam konteks ke Indonesia-an dimana guru tidak sekedar sebagai pengajar, namun juga sebagai pendidik, yakni membentuk watak dan kepribadian bangsa. Oleh karena itu, adalah wajar jika perhatian seharusnya
diberikan kepada kesejahteraan guru, sehingga ketika menjalankan tugas tersebut, guru tidak lagi memikirkan persoalan yang sifatnya mendasar, yakni . kebutuhan dasar bagi kehidupan manusia.
Comments
Post a Comment