Faktor-faktor Penghambat Kepala Sekolah untuk Berinovasi
Menurut Jamal Ma’ruf Asmani tidak jarang penghambat ditemukan sebagai ujian untuk menggapai cita-cita, baik yang bersifat internal (dalam diri kepala sekolah) maupun eksternal.[1]
a. Penghambat Internal
1) Lemahnya Semangat Belajar
Kepala sekolah di Indonesia sebagian besar usianya tidak muda lagi. Senioritas menjadi kebiasaan di negeri ini, sehingga mereka yang usianya sudah tua mereka yang menempati menjadi pemimpin. Semangat belajar mereka rendah, sinis terhadap ide-ide baru, negatif thinking terhadap gerakan pembaharuan.[2]
2) Sibuk dengan Kegiatan Lain
Kepala sekolah menggunakan sebagian waktunya untuk hal yang bernilai ekonomis, berdalih sekolah akan terus berjalan dengan manajeman yang telah dibangun. Sebagai pemegang kebijakan keberadaan kepala sekolah sangat penting karena banyak aturan yang tidak berjalan secara efektif tanpa keberadaan pengeraknya. [3]
3) Otoriter dan Sentralistis
Mengharuskan semua pemikiran, ide, dan gagasannya diterima dan ingin menang sendiri. Pemimpin seperti ini baiasanya mempunyai keunggulan yang ia jadikan senjata utama. Misalnya senioritas, kedudukannya sebagai pendiri sekolah, relasi yang luas dan akses tidak terbatas, kemampuan ekonomi yang tinggi, adanya hubungan darah dengan para pendiri sekolah. Secara faktual pemimpin otoriter dan sentralistis banyak yang mampu membawa kemajuan jika dilandasi dengan visi dan misi yang jelas dalam menjalankannya.[4]
4) Sulit Diajak Kerjasama
Kerjasama merupakan kebutuhan penting dalam organisasi. Dengan adanya kerjasama akan membentuk kolaborasi kepala sekolah dengan guru dan tenaga kependidikan maupen dengan lembaga yang lain. Kepala sekolah yang merasa cukup dengan kemampuan diri dan lembaganya, sehingga bersikap pasif untuk bekerjasama dengan lembaga lain. Ia merasa sekolahnya mempunyai keunikan yang tidak dimiliki sekolah lain, sehingga dengan diadakannya kerja sama dengan pihak lain, dikhawatirkan pihak lain akan memanfaatkannya untuk mencuri keunikan tersebut akan memperlemah kapasitas lembaga untuk mengembangkan diri.[5]
5) Miskin Kreativitas
Kreativitas merupakan kekuatan untuk menciptakan strategi baru. Mentalitas kepala sekolah yang tidak kreatif ini memperlambat perkembangan sekolah. Sekolah yang miskin kreativitas akan terus ketinggalan dan dikhawatirkan akan ditinggalkan peserta didiknya.[6]
b. Penghambat Eksternal
1) Tidak Ada Pembinaan Intensif dari Atasan
Pembinaan sangat penting untuk melahirkan kesadaran akan pentingnya pengembangan diri dan selalu mengikuti perkembangan. Kepala sekolah membutuhkan bimbingan dari instansi di atasnya.[7]
2) Bawahan Berorientasi Materialisme
Materialisme adalah aliran yang mendewakan materi. Dunia pendidikan membutuhkan sosok guru atau pejuang yang tulus ikhlas mengabdikan kemampuan dan waktunya untuk mengembangkan kualitas pendidikan.[8]
3) Apatisme Guru Terhadap Program yang Ada
Respon yang diberikan guru pasif dan apatis. Misalnya malas mengikuti program untuk meningkatkan kompetensi guru yang sudah dibuat oleh kepala sekolah.[9]
4) Orang Tua yang Pasif
Untuk meningkatkan kualitas sekolah dibutuhkan kerja sama dari guru, peserta didik, dan orang tua. Orang tua berperan besar, karena sebagian besar waktu peserta didik adalah di rumah.[10]
5) Peserta Didik yang Sulit Diatur
Peserta didik adalah modal besar pendidikan, mereka adalah objek sekaligus subjek pendidikan. Kepala sekolah harus mendorong seluruh elemen sekolah untuk berkarakter positif dan membentuk karakter peserta didik berisi nilai-nilai kejujuran, ketulusan, dan kasih sayang.[11]
[1]Jamal Ma’mur Asmani, Tips Menjadi Kepala Sekolah Profesional (Yogyakarta: Diva Press, 2012), hlm. 215-227.

Comments
Post a Comment