Definisi anak berbakat yang selama ini yang dikenal di Indonesia
Definisi anak berbakat yang selama ini yang dikenal di Indonesia, definisi keberbakatan diambil dari United States Office of Education (1972). Anak berbakat adalah mereka yang diidentifikasi oleh orang-orang yang berkualifikasi profesional memiliki kemampuan luar biasa, mampu berprestasi tinggi. Anak-anak ini membutuhkan program pendidikan yang berdiferensiasi dan atau pelayanan di luar jangkauan program sekolah reguler agar dapat merealisasikan kontribusi dirinya maupun masyarakat.[1]
Ukuran keberbakatan bersumber dari kemampuan yang diperoleh dari penilaian hasil belajar dalam pengertian yang terbatas. Tujuan utama keberbakatan menetapkan status siswa dengan membedakan antara yang berbakat (gifted) dan yang tidak berbakat. Saat ini fokus keberbakatan telah berubah. Konsep keberbakatan kini bersumber pada bagaimana keberbakatan itu berkontribusi pada orang lain yang dapat menghasilkan produk kreatif, bermakna, bersifat dinamis, dan bertindak terhadap realitas. Asumsinya adalah bahwa individu tertentu telah diberikan anugerah oleh Tuhan Yang Maha Esa dan alam serta masyarakat, tetapi seringkali tidak menghargai anugerah tersebut.[2]
Conny S.A.S Munandar dan S.C.U Munandar pada tahun 1984 mengemukakan karakteristik atau ciri-ciri anak berbakat itu sebagai berikut:[3]
1) Aspek Belajar
Mudah menangkap pelajaran, ingatan baik, perendaharaan kata luas, penalaran tajam (berpikir logis, kritis dan memahami sebab akibat), daya konsentrasi baik (perhatian tidak mudah teralihkan), senang dan sering membaca, ungkapan diri lancar dan jelas, cermat dalam pengamatan, cepat dalam memcahkan soal, cepat dalam menemukan kekeliruan atau kesalahan.
2) Aspek Kreativitas
Dorongan ingin tahu besar, sering mengajukan pertanyaan yang baik, memberikan banyak gagasan atau usul terhadap suatu masalah, bebas dalam menyatakan pendapat, menonjol dalam salah satu bidang seni, mempunyai pendapat sendiri dan dapat mengungkapkannya, tidak mudah terpengaruh orang lain, daya imajinasi kuat, orisinalitas tinggi (tampak dalam ungkapan gagasan, karangan dan sebagainya) serta menggunakan cara-cara orisinal dalam pemecahan masalah, dapat bekerja sendiri, dan senang mencoba hal baru.
3) Aspek Motivasi
Tekun menghadapi tugas (dapat bekerja terus menerus dalam waktu lama, tidak berhenti sebelum selesai), ulet dalam menghadapi kesulitan, tidak memerlukan dorongan dari luar untuk berprestasi, ingin mendalami pengetahuan yang dipelajari di kelas, selalu berusaha untuk berprestasi sebaik mungkin, menunjukkan minat terhadap bermacam-macam masalah orang dewasa, lebih senang bekerja mandiri, cepat bosan dengan tugas-tugas rutin, dapat mempertahankan pendapatnya, tidak mudah melepaskan hal yang diyakini, serta senang mencari dan memecahkan soal-soal.
4) Aspek Psikososial
Senang dipilih menjadi pemimpin atau ketua (oleh guru dan atau teman), disenangi oleh teman sekelas, dapat bekerja sama, dapat memengaruhi teman-temannya, mempunyai inisiatif, rasa tanggung jawab besar, percaya pada diri sendiri, mudah menyesuaikan diri terhadap situasi yang ada di sekolah, aktif berpartisipasi dalam kegiatan sosial di sekolah, dan senang membantu orang lain.
[1]Reni Akbar Hawadi, Akselerasi: A-Z Informasi Percepatan Belajar dan Anak Berbakat Intelektual, (Jakarta: Grasindo, 2004), hal. 35.
[2]Conny R. Setiawan, Kreativitas Keberbakatan: Mengapa, Apa dan Bagaimana,(Jakarta: Macanan Jaya Cemerlang, 2010), hal. 30.
[3]Tim Pengembangan Ilmu Pendidikan FIP-UPI, Ilmu dan Aplikasi Pendidikan Bagian 4: Pendidikan Lintas Bidang, (Bandung: Imperial Bhakti Utama, 2007), hal. 164.
Comments
Post a Comment