Cara Pembinaan Anak Berbakat atau Siswa Berbakat



Siswa dengan kecerdasan dan kemampuan luar biasa sering disebut anak berbakat, memang membutuhkan layanan pendidikan khusus. Ada beberapa macam program pembinaan anak berbakat dapat digolongkan ke dalam tiga bentuk yaitu:[1]
1)      Pemerkayaan adalah pembinaan bakat dengan penyediaan kesempatan dan fasilitas belajar tambahan yang bersifat pendalaman kepada anak berbakat setelah yang bersangkutan menyelesaikan tugas-tugas yang diprogramkan untuk anak-anak pada umumnya.
2)      Percepatan yaitu acara penanganan anak berbakat dengan memperbolehkannya naik kelas secara meloncat, atau menyelesaikan program reguler di dalam jangka waktu yang lebih singkat.
3)      Pengelompokan khusus secara penuh atau sebagian, yaitu bila sejumlah anak berbakat dikumpulkan dan diberi kesempatan secara khusus memperoleh pengalaman belajar yang sesuai dengan potensinya. Kegiatan bisa berlangsung seminggu sekali atau selama satu semester penuh.
Pelaksanaan pelayanan pendidikan anak berbakat menurut KKPPAB (Kelompok Kerja Pengembangan Pendidikan Anak Berbakat) bisa dikelompokkan sebagai berikut:[2]
1)      Kelas biasa atau sekolah biasa.
2)      Kelas biasa dengan sistem “pull out”.
3)      Individualized Classrooms.
4)      Kelas Khusus dengan kombinasi dengan beberapa “integrated classes
5)      Sekolah Khusus.
Selain model/bentuk pendidikan anak berbakat, KKPPAB juga melakukan beberapa kegiatan, yaitu:
1)      Mengembangkan kurikulum berdiferensiasi.
2)      Membahas kualifikasi dan pendidikan guru anak berbakat.
3)      Menyusun program bimbingan konseling untuk anak berbakat.
4)      Menyusun evaluasi program pendidikan anak berbakat.
Di bawah ini dikemukakan sejumlah karakteristik yang diperlukan bagi guru pembinaan anak berbakat akademik:[3]
1)      Penguasaan materi yang mantap, karena anak berbakat asuhannya diperkirakan melaju pesat di dalam menjelajahi bidang minatnya.
2)      Guru dengan sepenuh hati menyukai bidangnya, baik untuk mencambuknya agar selalu mengikuti perkembangannya secara setia maupun untuk menularkan kegairahannya kepada anak-anak asuhannya.
3)      Menguasaai berbagai strategi belajar mengajar, khususnya yang lebih berpusat kepada siswa karena diharapkan memberi hasil pengiring berupa keterampilan menemukan masalah di samping keterampilan memecahkan masalah.
4)      Mampu mengelola kegiatan belajar mengajar secara individual dan kelompok kecil disamping secara klasikal.
5)      Mengutamakan standar prestasi yang setinggi-tingginya di dalam setiap kesempatan, baik untuk siswanya maupun untuk dirinya sendiri. Guru yang menantang siswa berbakat adalah yang selalu menuntut yang maksimal.
6)      Suka bergaul dengan anak-anak berbakat dengan segala keresahannya, luwes dalam pendekatan pribadi tetapi tegas dan sistematis di dalam pengaturan kerja.


[1]S.C Utami Munandar, Anak-Anak Berbakat: Pembinaan dan Pendidikannya, (Jakarta: Rajawali, 1985), hal. 57. 
[2]Reni Akbar Hawadi, Menguatkan Bakat Anak, (Jakarta: Gramedia Widiasarana Indonesia, 2010), hal. 49.
[3]S.C Utami Munandar, Anak-Anak Berbakat..., hal. 65-66.   

Comments

Popular posts from this blog

Peluang di Era Revolusi Industri 4.0

Manfaat Air Rebusan Daun Sukun Manjur Mengatasi Malaria

KOMET MINOR TERBARU 2019 - TERE LIYE