TEORI-TEORI PENDIDIKAN DALAM GERAKAN BARU
TEORI-TEORI PENDIDIKAN DALAM GERAKAN BARU
I. PENDAHULUAN
Kondisi perkembangan abad terkini menghendaki adanyanya suatu sistim pendidikan yang kompreshensif dan representative, karena perkembangan masyarakat dewasa ini menghendaki adanya pembinaan yang dilaksanakan secara seimbang antara nilai dan sikap, pengetahuan, kecerdasan,ketrampilan dan kemampuan berkomunikasi. Dengan perkembangan zaman di dunia pendidikan yang terus berubah dengan signifikan sehingga banyak merubah pola pikir pendidik, dari pola pikir yang awam dan kaku menjadi lebih modern. Hal tersebut sangat berpengaruh dalam kemajuan pendidikan di Indonesia. Menyikapi hal tersebut pakar-pakar pendidikan mengkritisi dengan cara mengungkapkan dan teori pendidikan yang sebenarnya untuk mencapai tujuan pendidikan yang sesungguhnya.
Kata pendidikan berasal dari bahasa Yunani “paedagogiek” (pais=anak, gogos = membimbing / menuntun, iek=ilmu) adalah ilmu yang membicarakan bagaimana memberikan bimbingan kepada anak. Dalam bahasa Inggris, pendidikan diterjemahkan menjadi ‘education’ (Yunani, educare) yang berarti membawa keluar yang tersimpan dalam jiwa anak, untuk dituntun agar tumbuh dan berkembang.
Dalam bahasa Indonesia, pendidikan berarti proses mendidik atau melakukan suatu kegiatan yang mengandung proses komunikasi pendidikan antara yang mendidik dan yang dididik. Melalui masukan-masukan kepada peserta didik yang secara sadar akan dicerna oleh jiwa, akal maupun raganya sehingga pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor), dan sikap (afektif) sesuai dengan yang dituju oleh pendidikan tersebut.
Tujuan pendidikan adalah menciptakan seseorang yang berkualitas dan berkarakter sehingga memiliki pandangan yang luas ke depan untuk mencapai suatu cita- cita yang di harapkan dan mampu beradaptasi secara cepat dan tepat di dalam berbagai lingkungan. Karena pendidikan itu sendiri memotivasi diri kita untuk lebih baik dalam segala aspek kehidupan.
Pada dasarnya pengertian pendidikan merujuk UU SISDIKNAS No.20 tahun 2003 adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan negara.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia kata pendidikan berasal dari kata ‘didik’ dan mendapat imbuhan ‘pe’ dan akhiran ‘an’, maka kata ini mempunyai arti proses atau cara atau perbuatan mendidik. Secara bahasa definisi pendidikan adalah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.
Menurut Ki Hajar Dewantara (Bapak Pendidikan Nasional Indonesia) menjelaskan tentang pendidikan yaitu, tuntutan di dalam hidup tumbuhnya anak-anak, adapun maksudnya, pendidikan yaitu menuntun segala kekuatan kodrat yang ada pada anak-anak itu, agar mereka sebagai manusia dan sebagai anggota masyarakat dapatlah mencapai keselamatan dan kebahagiaan setinggi-tingginya. Langeveld adalah seorang ahli pendidikan bangsa Belanda ahli ini merumuskan pengertian pendidikan sebagai berikut : “Pendidikan adalah bimbingan atau pertolongan yang diberikan oleh orang dewasa kepada perkembangan anak untuk mencapai kedewasaannya dengan tujuan agar anak cukup cakap melaksanakan tugas hidupnya sendiri tidak dengan bantuan orang lain”. Herbert Spencer, filosof Inggris yang hidup tahun 1820-1903 M mengatakan bahwa pendidikan itu ialah menyiapkan seseorang agar dapat menikmati kehidupan yang bahagia. Sedang menurut Rousseau filosof Prancis, 1712-1778 M mengatakan bahwa pendidikan ialah pembekalan diri kita dengan sesuatu yang belum ada pada kita sewaktu masa kanak-kanak, akan tetapi kita membutuhkannya di waktu dewasa. John Dewey filosof Chicago, 1859 M - 1952 M juga mengatakan bahwa pendidikan adalah membentuk manusia baru melalui perantaraan karakter dan fitrah, serta dengan mencontoh peninggalan - peninggalan budaya lama masyarakat manusia.
Sedangkan menurut H. Horne, pendidikan adalah proses yang terus menerus (abadi) dari penyesuaian yang lebih tinggi bagi makhluk manusia yang telah berkembang secara fisik dan mental, yang bebas dan sadar kepada vtuhan, seperti termanifestasi dalam alam sekitar intelektual, emosional dan kemanusiaan dari manusia.
Pendidikan sebagai suatu kegiatan kompleks menuntut Renanganan untuk meningkatkan kualitasnya, naik yang bersifat menyeluruh maupun pada berbagai komponen tertentu saja. Gerakan baru dalam paendidikan pada umumnyatermasuk yang kedua yakni upaya peningkatan pendidikan hanya dalam satu atau beberapa komponen saja. Beberapa gerakan baru tersebut memusatkan diri pada perbaikan peningkatan kualitas belajar mengajar pada sistem persekolahan, seperti pengajarn alam sekitar, pengajaran pusat perhatian, sekoalh kerja dan pengajaran proyek, dsb.
II. METODE
Makalah ini menggunakan metode kajian pustaka dan dengan cara mencari informasi terkait melalui sember-sumber di internet.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Ada enam pilar pendidikan yang direkomendasikan UNESCO yang dapat digunakan sebagai prinsip pembelajaran yang bisa diterapkan di dunia pendidikan.
1. Learning to Know
Learning to know bukan sebatas mengetahui dan memiliki materi informasi sebanyak-banyaknya, menyimpan dan mengingat selama-lamanya dengan setepat-tepatnya, sesuai dengan petunjuk’petunjuk yang telah diberikan, namun juga kemampuan dalam memahami makna di balik materi ajar yang telah diterimanya. Dengan learning to know, kemampuan menangkap peluang untuk melakukan pendekatan ilmiah diharapkan bisa berkembang yang tidak hanya melalui logika empirisme semata, tetapi juga secara transendental, yaitu kemampuan mengaitkannya dengan nilai-nilai spiritual.
2. Learning to Do
Learning to do merupakan konsekuensi dari learning to know. Kelemahan model pendidikan dan pengajaran yang selama ini berjalan adalah mengajarkan “omong” (baca: teori), dan kurang menuntun orang untuk “berbuat” (praktek). Semangat retorika lebih besar dari action. Yang dimaksud learn¬ing to do bukanlah kemampuan berbuat mekanis dan pertukangan tanpa pemikiran. Dengan demikian, peserta didik akan terus belajar bagaimana memperbaiki dan menumbuhkembangkan kerja, juga bagai¬mana mengembangkan teori atau konsep intelektualitasnya.
3. Learning to Be
Melengkapi learning to know dan learning to do, Robinson Crussoe berpendapat bahwa manusia itu hidup sendiri tanpa kerja sama atau saling tergantung dengan manusia lain. Manusia di era sekarang ini bisa hanyut ditelan masa jika tidak berpegang teguh pada jati dirinya. Learning to be akan menuntun peserta didik menjadi ilmuwan sehingga mampu menggali dan menentukan nilai kehidupannya sendiri dalam hidup bermasyarakat sebagai hasil belajarnya.
4. Learning to Live Together
Learning to live together ini merupakan kelanjutan yang tidak dapat dielakkan dari ketiga poin di atas. Oleh karena itu, premis ini menuntut seseorang untuk hidup bermasyarakat dan menjadi educated person yang bermanfaat baik bagi diri dan masyarakatnya maupun bagi seluruh umat manusia.
5. Learning How to Learn
Sekolah boleh saja selesai, tetapi belajar tidak boleh berhenti. Pepatah, “Satu masalah terjawab, seribu masalah menunggu untuk dijawab”, seakan sudab menjadi hal yang tidak bisa dihindarkan dalam kehidupan yang serba modern ini. Oleh karena itu, Learning How to Leam akan membawa peserta didik pada kemampuan untuk dapat mengembangkan strategi dan kiat belajar yang lebih independen, kreatif, inovatif, efektif, efisien, dan penuh percaya diri, karena masyarakat baru adalah learning society atau knowledge society. Orang-orang yang mampu menduduki posisi sosial yang tinggi dan penting ada¬lah mereka yang mampu belajar lebih lanjut.
Learning How to Learn memerlukan model pembelajaran baru, yaitu pergeseran dari model belajar “memilih” (menghafal) menjadi model belajar “menjadi” (mencari/meneliti). Asumsi yang digunakan dalam model belajar “memiliki” adalah “pendidik tahu”, peserta didik tidak tahu. Oleh karena itu, pendidik memberi pelajaran, peserta didik menerima. Yang dipentingkan dalam model belajar “memiliki” ini adalah penerima pelajaran, yang akan menerima sebanyak-banyaknya, menyimpan selama-lamanya, dan menggunakannya sesuai dengan aslinya serta menurut instruksi yang telah diberikan. Sebaliknya, pada proses belajar “menjadi”, peserta didik sendiri yang mencari dan menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang dihadapinya, sedang pendidik dituntut membimbing, memotivasi, memfasilitasi, memprovokasi, dan memersuasi.
6. Learning Throughout Learn
Perubahan dan perkembangan kehidupan berjalan terus menerus yang semakin keras dan rumit. Oleh karena itu, tidak ada jalan lain kecuali harus belajar terus menerus sepanjang hayat. Learning Throughout Life ini menuntun dan memberi pencerahan pada peserta didik bahwa ilmu bukanlah hasil buatan manusia, tetapi merupakan hasil temuan atau hasil pencarian manusia. Karena ilmu adalah ilmu Tuhan yang tidak terbatas dan harus dicari, maka upaya mencarinya juga tidak mengenal kata berhenti.
Bertolak dari butir-butir tersebut, gagasan paradigma baru pendidikan Indonesia dalam abad mendatang adalah :
Pertama, mengubah dan mengembangkan paradigma lama menjadi paradigma baru. Tinggalkan yang sudah tidak sesuai dengan tuntutan kondisi terkini. Kembangkan nilai-nilai lama yang sekiranya masih dapat dimanfaatkan, dan ciptakan pandangan baru yang sesuai dengan kebutuhan atau tantangan zaman. Termasuk di sini adalah perubahan pendekatan dalam pendidikan yang sentralistik dan segregatif, serta mewujudkan pendidikan masa depan dan nasional menuju terwujudnya suatu masyarakat dunia yang damai. Pendidikan untuk perdamaian dunia hanya mungkin terwujud di dalam suaatu pendidikan yang dimulai di dalam masyarakat lokal yang berbudaya.
Kedua, perlunya perubahan metode penyampaian materi pendidikan. Metode yang kita gunakan selama ini rasanya terlampau banyak menekankan penguasaan informasi untuk menyelesaikan masalah. Akibatnya, kita hanya mengutamakan manusia yang patuh dan kurang memikirkan terbinanya manusia kreatif. Ketiga, paradigma pendidikan agama yang eksklusif, dikotomis, dan parsial harus diubah menjadi pendidikan yang inklusif, integralistik, dan holistis.
Aliran “baru” dalam pendidikan tidak lagi mempersoalkan perlu atau tidak perluya pendidikan bagi individu yang perlu dikembangkan adalah bagaiman amenyelenggarakan pendidikan yang benar-benar bermanfaat secara maksimal bagi individu yang sedang berkembang dan bagi lingkungan atau masyarakatnya. Disini kita akan membahas beberapa aliran “baru” dalm pendidikan bahan-bahan dalam buku Agus Suyono (1958 dan 1980) dipakai sebagai bahan acuan dalam tulisan ini.
A. Pengajaran Alam Sekitar
Perintis model pembelajaran alam sekitar adalah Fr. Finger (1808-1888) di Jerman dengan ”Heimarkunde” (pengajaran alam sekitar) dan J. Ligthart (1859-1916) di Belanda dengan ”Het Bolle Leven” (kehidupan senyatanya). Model pembelajaran alam sekitar, memiliki beberapa prinsip yaitu; (1) dengan pengajaran alam sekitar, guru dapat memperagakan secara langsung sesuai dengan sifat dasar pengajaran; (2) pengajaran alam sekitar memberikan kesempatan sebanyak-banyaknya agar peserta didik lebih aktif; (3) pengajaran alam sekitar memung-kinkan untuk memberikan pengajaran totalitas, yaitu suatu bentuk dengan cirri-ciri: (a) suatu pengajaran yang tidak mengenal pembagian mata pengajaran dalam daftar pengajaran, tetapi guru memahami tujuan pengjaran dan mengarahkan usahanya untuk mencapai tujuan , (b) suatu pengajaran yang menarik minat, karena segala sesuatu dipusatkan atas suatu bahan pengajaran yang menarik perhatian peserta didik dan diambilkan dari alam sekitarnya, dan (c) suatu pengajaran yang memungkinkan segala bahan pengajaran itu memiliki hubungan yang erat antara satu dengan lainnya secara teratur; (4) pengajaran alam sekitar member kepada peserta didik bahan apersepsi intelektual yang kukuh dan tidak verbalitas; dan (5) pengajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional karena alam sekita mempunyai ikatan emosional dengan peserta didik.
J.J. Rousseau dengan teorinya “kembali ke alam” menunjukkan betapa pentingnya pengaruh alam terhadap perkembangan anak didik. Karena itu pendidikan harus dilakukan di lingkungan alam yang bersih, tenang, suasana menyenangkan dan segar. Sehingga sang anak tumbuh sebagai menusia yang baik. Jan Ligthart terkenal dengan “Pengajaran alam sekitar”. Menurut tokoh ini pendidikan sebaiknya disesuaikan dengan keadaan alam sekitar. Alam sekitar (millieu) adalah segala sesuatu yang ada di sekitar kita (Oemar Hamalik, 2003:193).
Pengajaran berdasarkan alam sekitar akan membantu anak didik untuk menyesuaikan dirinya dengan keadaan sekitarnya. Ovide Decroly dikenal dengan teorinya, bahwa “Sekolah adalah dari kehidupan dan untuk kehidupan” (Ecole pour la vie par lavie). Dikemukakan bahwa “bawalah kehidupan ke dalam sekolah agar kelak anak didik dapat hidup di masyarakat”.
Pandangan ketiga tokoh pendidikan tersebut sedikit banyak menggambarkan bahwa lingkungan merupakan dasar pendidikan/ pengajaran yang penting, bahkan dengan desain ini dapat dikembangkan suatu model persekolahan yang berorientasi pada lingkungan masyarakat.
Ada dua istilah yang sangat erat kaitannya, tetapi berbeda secara gradual, ialah “alam sekitar” dan lingkungan”. Alam sekitar mencakup segala hal yang ada di sekitar kita, baik yang jauh maupun yang dekat letaknya, baik yang masa silam maupun yang akan datang, tidak terikat pada waktu dan tempat. Lingkungan adalah sesuatu yang ada di alam sekitar yang memiliki makna dan/atau pengaruh tertentu kepada individu.
Lingkungan (environment) sebagai dasar pengajaran adalah faktor kondisional yang mempengaruhi tingkah laku individu dan merupakan faktor belajar yang penting. Lingkungan belajar/ pembelajaran/ pendidikan terdiri dari berikut ini:
Lingkungan sosial adalah masyarakat, baik kelompok besar ataupun kecil
Lingkungan personal meliputi individu-individu sebagai suatu pribadi berpengaruh terhadap individu pribadi lainnya
Lingkungan alam (fisik) meliputi semua sumber daya alam yang dapat diberdayakan sebagai sumber belajar
Lingkungan kultural, mencakup hasil budaya dan teknologi yang dapat dijadikan sebagai sumber belajar, dan dapat dijadikan faktor pendukung pengajaran (Oemar Hamalik, 2003 : 194-195).
Fungsi lingkungan pendidikan
Suatu lingkungan pendidikan/pengajaran memiliki fungsi-fungsi sebagai berikut :
Fungsi Psikologis, stimulus bersumber dari atau berasal dari lingkungan yang merupakan rangsangan terhadap individu sehingga terjadi respons yang menunjukkan tingkah laku tertentu. Respons tadi pada gilirannya dapat menjadi suatu stimulus baru yang menimbulkan respons baru, demikian seterusnya. Ini berarti, lingkungan mengandung makna dan melaksanakan fungsi psikologi tertentu;
Fungsi pedagogis, lingkungan memberikan pengaruh-pengaruh yang bersifat mendidik, khususnya lingkungan yang sengaja diciptakan sebagai suatu lembaga pendidikan, misalnya keluarga, sekolah, lembaga pelatihan, lembaga-lembaga sosial. Masing-masing lembaga tersebut memiliki program pendidikan, baik tertulis maupun yang tidak tertulis.
Fungsi Instruksional, program instruksional merupakan suatu lingkungan pengajaran pengajaran atau pembelajaran yang dirancang secara khusus. Guru yang mengajar, materi pelajaran, sarana dan prasarana pengajaran, media pembelajaran dan kondisi lingkungan kelas (fisik) merupakan lingkungan yang sengaja dikembangkan untuk mengembangkan tingkah laku siswa. (Oemar Hamalik, 2003 : 196-197)
Suatu dimensi lingkungan yang sangat penting adalah masyarakat. Dalam konteks ini masyarakat mencakup unsur-unsur individu, kelompok, sumber-sumber alam, sumber daya, sistem nilai dan norma, kondisi/situasi serta masalah-masalah dan berbagai hal dalam masyarakat, secara keseluruhan merupakan lingkungan masyarakat.
Konsep pengajaran alam sekitar diilhami oleh kata-kata yang dipetik dari Emmanuel Kant: “Pengertian tanpa pengamatan adalah kosong dan pengamatantanpa pengertian adalah buta.” Hal ini berarti bahwa antara pengamatan dengan pengertian harus terjalin hubungan yang saling menunjang dan salingmemperkuat. Artinya manusia hendaknya mampu memanfaatkan lingkungannya. Langkah-langkah pokok pengajaran ini ialah menetapkan tujuan, mengadakan persiapan, melakukan pengamatan, dan mengolah apa yang diamati. Keuntungan Pengajaran Alam Sekitar adalah menentang verbalisme dan intelektualisme dapat membangkitkan perhatian spontan dari anak -anak untukmelakukan kegiatan dengan sepenuh hati. anak-anak selalu didorong untuk aktif dan kreatif . Bahan yang diajarkan dapat mempunyai nilai praktis bagi anak-anak Salah seorang tokoh pengajaran alam sekitar ialah J. Ligthart (1859-1916) seorang ahli pendidikan bangsa Belanda. Pengajaran alam sekitar ini dinamakan “Pengajaran barang sesungguhnya”. Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar,perintis gerakan ini adalah Fr. A. Finger di Jerman dengan heimatkunde, dan J. Ligthart di Belanda dengan Het Voll Leven. Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar. Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak pada alam sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar, perintis ajaran ini antara lain ; Fr. A. Finger di Jerman dengan Heimatkunde (pengajaran alam sekitar) dan J. Lighthart di Belanda dengan Het Valleven (kehidupan senyatanya). Alam sekitar sebagai fundamen dan pengajaran memberikan dasar emosional, sehingga anak menaruh perhatian yang spontan terhadap segala sesuatu yang diberikan kepadanya asal itu didasarkan atas dan diambil ari alam sekitarnya.
Pendekatan lingkungan merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang berusaha untuk meningkatkan keterlibatan siswa melalui pendayagunaan lingkungan sebagai sumber belajar. Pendekatan ini berasumsi bahwa kegiatan pembelajaran akaan menarik siswa, jika apa yang dipelajari diangkat dari lingkungan, sehingga apa yang dipelajari berhubungan dengan kehidupan dan berfaedah bagi lingkungan (Khusnin, 2008). Menurut Yulianto (2002) pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar dimana lingkungan digunakan sebagai sumber belajar. Untuk memahami materi yang erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari sering digunakan pendekatan lingkungan. Sehingga dapat dikatakan lingkungan yang ada di sekitar merupakan salah satu sumber belajar yang dapat dioptimalkan untuk pencapaian proses dan hasil pendidikan yang berkualitas. Lingkungan dapat memperkaya bahan dan kegiatan belajar. Hal senada juga diungkapkan Suniarsih (2006) yaitu berlangsungnya proses pembelajaran tidak terlepas dengan lingkungan sekitar.
Pendidikan lingkungan sebagai suatu dimensi, di dalam pembelajarannya menggunakan pendekatan lingkungan. Di dalam model pengajaran, pendekatan ini diklasifikasikan berdasarkan lingkungan belajarnya. Jadi pendekatan lingkungan tidak memiliki sintaks pembelajaran. Karli dan Margaretha (2002) menjelaskan bahwa pendekatan lingkungan adalah suatu strategi pembelajaran yang memanfaatkan lingkungan sebagai sasaran belajar, sumber belajar, dan sarana belajar. Hal tersebut dapat dimanfaatkan untuk memecahkan masalah lingkungan, dan untuk menanamkan sikap cinta lingkungan.
Pembelajaran melalui pendekatan lingkungan kini dipopulerkan dengan istilah outbond yaitu suatu program pembelajaran di alam terbuka yang berdasarkan pada prinsip experimential learning yaitu belajar melalui pengalaman langsung. Nasution (1976:197) dalam Habiba (2006) mengatakan pendekatan lingkungan atau karyawisata adalah pendekatan yang berorientasi pada alam bebas dan nyata, tidak harus selalu ke tempat yang jauh tetapi dapat dilakukan di lingkungan alam sekitar kita. Jadi menggunakan pendekatan lingkungan dalam pembelajaran adalah memanfaatkan atau menggunakan lingkungan sebagai sumber belajar untuk keperluan pengajaran dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Penggunaan pendekatan lingkungan berarti mengaitkan lingkungan dalam suatu proses belajar mengajar dimana lingkungan digunakan sebagai sumber belajar.
Pendekatan lingkungan berarti mengajak siswa belajar langsung ke lapangan tentang konsep pelajaran. Pendekatan lingkungan berpangkal pada adanya hubungan antara perkembangan fisik manusia dengan lingkungan yang ada di sekitarnya. Belajar melalui pendekatan lingkungan bukan berarti mengeksploitasi terhadap alam, akan tetapi hanya menggunakan jasa alam untuk memenuhi kebutuhan pengetahuan. Menurut Hidayah (2006) pendekatan lingkungan sebagai salah satu alternatif pendekatan dalam pembelajaran biologi sudah mulai diterapkan. Pendekatan lingkungan sebagai pendekatan dalam pembelajaran biologi juga dapat dipadukan dengan pendekatan lain. Pembelajaran dengan pendekatan lingkungan lebih bermakna bila dikombinasikan dengan pembelajaran kooperatif. Didalam pembelajaran siswa bekerja sama dengan kelompoknya serta saling membantu dalam belajar. Pendekatan lingkungan diwujudkan dengan cara menampilkan contoh-contoh penerapan biologi yang terdapat di lingkungan siswa.
Gerakan pendidikan yang mendekatkan anak dengan sekitarnya adalah gerakan pengajaran alam sekitar, perintis gerakan ini adalah Fr. A. Finger di Jerman dengan Heimatkunde, dan J. Ligthart di Belanda dengan Het Voll Leven. Beberapa prinsip gerakan Heimatkunde adalah
1. Dengan pengajaran alam sekitar itu guru dapat meragakan secara langsung betapa pentingnya pengajaran dengan meragakan atau mewujudkan itu sesuai dengan sifat-sifat atau dasar-dasar orang pengajaran.
2. Pengajaran alam sekitar memberikan sebanyak-banyaknya agar anak aktif atau giat tidak hanya duduk, dengar, dan catat saja.
3. Pengajaran alam sekitar untuk memberikan pengajaran totalitas, yaitu suatu bentuk pengajaran dengan ciri-ciri dalam garis besarnya sebagai berikut :
a) Suatu pengajaran yang tidak mengenai pembagian mata pengajaran dalam daftar pengajaran, tertapi guru memahami tujuan pengajaran dan mengerahkan usahanya untuk mencapai tujuan.
b) Suatu pengajaran yang menarik minat, karena segala suatu diputuskan atas suatu bahan pengajaran yang menarik perhatian anak dan diambilkan dari alam sekitarnya.
c) Suatu pengajaran yang memungkinkan segala bahan pengajaran itu berhubung-hubungan satu sama lain seerat-eratnya secara teratur.
d) Pengajaran Alam Sekitar memberi kepada anak bahan apersepsi intelektual yang kukuh dan tidak verbalistis. Yang dimaksud dengan apersepsi intelektual adalah segala sesuatu yang baru dan masuk didalam intelek anak, harus dapat luluh menjadi satu dengan kekayaan pengetahuan yang sudah dimiliki anak. Harus terjadi proses asimilasi antara pengatahuan lama dengan pengatahuan baru.
e) Pengajaran alam sekitar memberikan apersepsi emosional, karna alam sekitar mempunyai ikatan emosional dengan anak.
Sedangkan J. Lingthart mengemukaikan pegangan dalam Het Volle Leven sebagai berikut:
Ø Anak harus mengetahui barangnya terlebih dahulu sebelum mendengar namanya, tidak kebalikannya, sebab kata itu hanya suatu tanda dari pengertian tentang barang itu.
Ø Pengajaran yang sesungguhnya harus mendasarkan pada pengajaran selanjutnya atau mata pengajaran yang laen harus dipusatkan atas pengajaran itu.
Ø Haruslah diadakan perjalanan memasuki hidup senyatanya kesemua jurusan, agar murid paham akan hubugan antara bermacam-macam lapangan dalam hidupnya ( Pegajaran Alam Sekitar ).
Pokok-pokok pendapat pengajaran alam sekitar tersebut telah banyak dilakukan disekolah, baik dengan peragaan, pengunaan bahan local dalam pengajaran, dan lain-lain. Seperti telah dikemukakan bahwa beberapa tahu terakhir ini telah ditetapkan adanya muatan local dalam kurikulum, termasuk penggunaan alam sekitar. Dengan muatan local tersebut diharapkan anak makin dekat dengan alam dan masyarakat lingkungannya. Disamping alam sekitar sebagai isi bahan ajar, alam sekitar juga menjadi kajian empiric melalui percobaan, studi banding, dan sebagainya.
Langkah-Langkah Pokok Dasar Konsepsi Lingkungan Hidup Anak:
a) Penetapan tujuan : anak didik harus mempunyai tanggung jawab sesuai yang dia miliki dalam kehidupan sehari-hari dan tujuan yang baik dalam lingkungan masyarakat sekitar.
b) Anak didik harus mempunyai kemampuan yang baik dalam pendidikan maupun pekerjaan-pekerjaan yang dia miliki.
c) Objek pengamat adalah siswa atau anak didik harus mampu mempunyai potensi-potensi yang lebih matang dalam suatu perjuangan. Entah itu baik maupun buruk.
d) Mengolah apa yang diamati.
Keuntungan Pengajaran Alam Sekitar Pengajaran ini menentang verbalisme dan intelektualisme. Obyek alam sekitar akan dapat membangkitkan perhatian spontan dari anak-anak. Anak-anak selalu didorong untuk aktif dan kreatif. Bahan-bahan yang diajarkan dapat mempunyai nilai praktis. Anak-anak dijadikan subyek bagi alam sekitarnya.
Pengembangan Pengajaran Alam Sekitar
Salah seorang tokoh pengajaran alam sekitar ialah J. Ligthart (1859 – 1859) seorang ahli pendidikan bangsa Belanda. Pengajaran alam sekitar ini oleh J. Ligthart dinamakan “pengajaran barang sesungguhnya”. J. Ligthart menekankan bahwa di dalam pelaksanaan pengajaran yang amat penting ialah suasananya, yaitu ketulusan-ikhlasan, kasih saying, persaudaraan, dan kepercayaan
B. Pengajaran Pusat Perhatian
Model pembelajaran pusat perhatian dirintis oleh Ovide Decroly (1871-1932) dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat minat (centered Intert). Dalam metode ini, peserta didik harus dapat hidup dalam masyarakat dan dipersiapkan untuk masyarakat, anak harus diarahkan kepada pembentukan individu dan sebagai anggota masyarakat. Karenanya, anak harus mempunyai pengetahuan terhadap diri sendiri seperti hasrat dan cita-citanya, kemudian pengetahuan tentang dunianya seperti lingkungannya dan tempat hidup di hari depannya. Menurut Decroly dalam Syaiful Sagala, dunia ini terdiri dari alam dan kebudayaan, dan dunia itu harus hidup dan setiap orang harus dapat mengembangkan kemampuan untuk mencapai cita-citanya.
Prinsip model pembelajaran pusat perhatian adalah; sekolah merupakan laboratorium untuk mengadakan penyelidikan demi kebaikan sistem pendidikan dan pengajaran. Dalam sekolah, anak didik diuji berbagai dasar aliran dalam dunia pengajaran modern seperti: (1) sekolah berhubungan langsung dengan alam dan penghidupan sekitarnya; (2) pendidikan dan pengajaran berdasarkan atas perkembangan anak. Tiap-tiap anak mempunyai perbedaan antara lain kesanggupan, tingkat kepandaian, tempo irama perkembangan, perhatian, pembawaan, bakat, dan sebagainya; (3) sekolah kerja; (4) pendidikan yang fungsional dan praktis; (5) pendidikan kesosialan dan kesusilaan dengan member kesempatan untuk bekerjasama; (6) kerjasama antar rumah dan sekolah; (7) co edukasi; dan (8) mempergunakan alat baru seperti percetakan, pengmpulan alat pelajaran oleh peserta didik sendiri. Semua hal ini telah diperaktekkan oleh Decroly di sekolahnya.
Dari referensi di atas dapat dikatakan bahwa pengajaran harus disesuaikan dengan minat-minat spontan untuk mendapat hasil yang diinginkan. Anak mempunyai minat spontan terhadap diri sendiri yang meliputi dorongan mempertahankan diri, dorongan mencari makan dan minum, dan dorongan memelihara diri. Sedangkan minat terhadap masyarakat (biososial) ialah dorongan sibuk bermain-main dan dorongan meniru orang lain. Dorongan ini yang disebut pusat-pusat minat.
Gerakan pengajaran pusat perhatian tersebut telah mendorong berbagai upaya agar dalam kegiatan pembelajaran diadakan berbagai variasi cara mengajar agar perhatian para peserta didik tetap terpusat pada bahan ajar. Peluang untuk memvariasikan pengajaran terbuka luas dengan kemajuan teknologi, hal ini menyebabkan upaya menarik minat belajar menjadi lebih besar. pemusatan perhatian pada pegajaran dilakukan bukan hanya pada pembukaan pelajaran, tetapi pada setiap pembahasan materi pelajaran sehingga tidak ada waktu yang disia-siakan dan pengajaran berlangsung dengan penuh arti. Pengajaran pusat perhatian didasarkan alam sekitar yang objek-objek pengamatannya dititik-beratkan pada sesuatu pusat tertentu, yaitu hal-hal yang menarik perhatian manusia dalam menjalani perkembangan hidupnya.
Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Davids Declory (1871-1932) dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat (center dinternet), disamping pendapatnya tentang pengajaran global. Pendidikan menurut Declory berdasar pada semboyan ecois pour ia vie, par la vie (sekolah untuk hidup dan oleh hidup), seorang ahli pendidikan bangsa Belgia yang menjadi tokoh pengajaran pusat perhatiahan mengaitkan kebutuhan anak dengan empatinstink pokok yang ada pada diri anak, yaitu instink untuk makan, untuk memiliki dan mempertahankan, untuk melindungi diri dari bahaya dan untuk aktif. Anak harus dididik untuk dapat hidup dalam masyarakat dan dipersiapkan dalam masyarakat, anak harus diarahkan. Oleh karena itu, anak harus mempunyai pengetahuan terhadap diri sendiri (tentang hasrat dan cita-citanya) dan pengetahuan tentang dunianya (lingkungannya, terdapat hidup di hari depannya).
Pengajaran pusat perhatian dirintis oleh Oviderminat Decroly dari Belgia dengan pengajaran melalui pusat-pusat minat, disamping pendapatnya tentang pengajaran global. Decroly menyumbangkan dua pendapat yang sangat berguna bagi pendidikan dan pengajaran, yaitu : Metode Global dan Centre d’interet. Pendidikan menurut Decroly berdasar pada semboyan sekolah untuk hidup dan oleh hidup. Anak harus di didik untuk dapat hidup dalam masyarakat dan dipersiapkan dalam masyarakat, anak harus dihadapkan kepada pembentukan individu dan anggota masyarakat
Dasar Konsepsi Pengajaran Pusat Perhatian :
a) Asasnya Orang tua harus memperhatikan khusus anaknya supaya anak tersebut bisa mengerti dalam suatu kehidupan yang dia akan rasakan di dalam kehidupan sehari-hari.
b) Bahan Pengajar Merupakan Totalitas yaitu orang tua atau guru memberikan bahan kepada anak didik sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan yang di perlukan oleh anak didik dan memberikan arahan yang terbaik pada anak didik, supaya anak didik bisa di gunakan dengan baik
c) Hubungan Simbiosis adalah suatu hubungan antara guru dengan anak didik dalam suatu pekerjaan, atau hubungan antara orang tua dengan anak didik di dalam kehidupan sehari-hari, maupun lingkungan masyarakat.
d) Keaktifan Anak yaitu setiap guru menilai anak didik dalam suatu pekerjaan atau dalam kehidupan di sekolah., seorang guru, menilai anak didik itu dalam kehadiran disekolah atau membuat suatu pekerjaan yang baik.
Gerakan Pengajaran Pusat Perhatian tersebut telah mendorong berbagai upaya agar dalam kegiatan belajar mengajar diadakan berbagai variasi ( cara mengajar, dan lain-lain ) agar perhatian siswa tetap berpusat pada bahan ajaran. Dengan kemajuan teknologi pengajaran, peluang mengadakan variasi tersebut menjadi terbuka lebar, dengan demikian upaya menarik minat menjadi lebih besar. Pemusatan perhatian dalam pengajaran biasanya dilakukan bukan hanya pada pembukaan pengajaran, tetapi juga pada setiap kali akan membahas sub topic yang baru.
C. Pengajaran Proyek
Konsepsi pendidikan yang di kemukakan oleh Dewey menarik perhatian berbagai ahli pendidikan. Salah seorang diantaranya ialah W.H Kilpatrick yang menyelenggarakan suatu sistem pengajaran proyek. Prinsip pokok yang selalu di ikuti dalam pengajaran proyek ialah bahwa pengajaran itu harus aktif, ilmiah, dan memasyarakat.
1. Pengertian Pendekatan Metode Proyek
Secara harfiah, proyek mempunyai makna maksud atau rencana. Metode proyek adalah suatu jenis kegiatan memecahkan masalah dilakukan oleh perseorangan atau kelompok kecil. Berbeda dengan kegiatan problem solving, dalam metode proyek ini biasanya dihasilkan produk seperti peta, maket, model, diorama dan sebagainya yang mempunyai intrinsik bagi anak didik yang menghasilkan. Metode proyek memungkinkan penyaluran minat anak dan anak pun dapat belajar untuk menelaah dan memandang suatu materi pelajaran dalam konteks lebih luas. Pengetahuan yang diperoleh siswa lebih berarti dan kegiatan belajar mengajar menjadi lebih menarik, karena pengetahuan itu bermanfaat bagi anak untuk lebih mengapresiasikan lingkungannya, memahami serta memecahkan masalah yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari
Penyusunan suatu proyek pada dasarnya adalah merencanakan suatu masalah pada berbagai bidang studi (pengembangan) yang memungkinkan murid melakukan berbagai bentuk kegiatan yang dilakukan anak-anak dalam memahami berbagai pengetahuan. Pengajaran proyek sangat memberikan kesempatan pada anak untuk aktif, mau bekerja dan secara produktif menemukan berbagai pengetahuan. Hal ini tentunya sangan jauh berbeda dengan metode pengajaran tradisional yang menyajikan bidang study (pengembangan) secara terpisah (parsial) antara bidang study satu dengan yang lainnya. Pengajaran model ini hanya dapat menciptakan pola berpikir parsial pada anak didik dalam memahami berbagai aspek pengetahuan.
Pengertian metode pengajaran proyek dari berbagai ahli :
pembelajaran berbasis proyek adalah metoda pengajaran sistematik yang mengikutsertakan pelajar ke dalam pembelajaran pengetahuan dan keahlian yang kompleks, pertanyaan authentic dan perancangan produk dan tugas [University of Nottingham, 2003].
pembelajaran berbasis proyek adalah pendekatan cara pembelajaran secara konstruktif untuk pendalaman pembelajaran dengan pendekatan berbasis riset terhadap permasalahan dan pertanyaan yang berbobot, nyata dan relevan bagi kehidupannya [Barron, B. 1998, Wikipedia]
pembelajaran berbasis proyek adalah pendekatan komprehensif untuk pengajaran dan pembelajaran yang dirancang agar pelajar melakukan riset terhadap permasalahan nyata. [Blumenfeld et Al. 1991]
pembelajaran berbasis proyek adalah cara yang konstruktif dalam pembelajaran menggunakan permasalahan sebagai stimulus dan berfokus kepada aktifitas pelajar. [Boud & Felleti, 1991]
2. Tujuan
Tujuan dari model pengajaran proyek yaitu mengaktifkan anak didik dalam kegiatan belajar mengajar serta membiasakan anak untuk berinteraksi kepada lingkungan. Pengajaran proyek sangat memberikan kesempatan pada anak untuk mau bekerja dan secara produktif menemukan berbagi pengetahuan. Guru hanya mengamati dan memantau jalannya kegiatan belajar mengajar baik di dalam kelas maupun di luar kelas.
3. Langkah-langkah Pokok Pengajaran Proyek
Pada dasarnya ada 3 langkah pokok, yaitu persiapan, kegiatan belajar, dan pameran
a. Persiapan : termasuk dalam langkah ini ialah penetapan masalah yang akan dibahas. Dalam langkah ini guru merangsang anak-anak agar mereka dapat memikirkan, mengusulkan dan mendiskusikan apa yang perlu mereka pelajari. Setelah masalah itu ditetapkan persiapan-persiapan lebih lanjut dilakukan, seperti menetapkan jenis-jenis kegiatan yang akan dilakukan, siapa-siapa yang akan melakukan kegiatan itu masing-masing, peralatan yang di perlukan, jedwal kegiatan. Persiapan ini perlu disusun dalam bentuk rencana yang nyata, lengkap, dan jelas sangkut paut kegiatan yang satu dengan yang lainnya. Dalam menyusun persiapan ini perlu di praktekkan metode ilmiah berupa penyusunan hipotesis dan pengajuan alternatif terdahulu.
b. Kegiatan Belajar : kegiatan ini pada dasarnya merupakan pelaksanaan dari rencana yang telah disiapkan terdahulu itu. Kegiatan dapat diawali dengan perjalanan sekolah, karyawisata, peninjauan, atau pengamatan suatu objek, membaca buku, majalah dan membuat catatan tentang apa yang diamati atau di baca itu. Berdasarkan hasil kegiatan seperti diskusi, membuat karangan, menyusun model, menjawab pertanyaan, menyusun diagram, membuat laporan dan sebagainya. Kegiatan belajar ini pada dasarnya merupakan usaha mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan atau hipotesis-hipotesis yang telah dikemukakan terdahulu.
c. penilaian : bentuk penilaian yang sering dilakukan ialah dengan mengadakan pameran. Semua hasil kegiatan yang dilakukan oleh anak-anak di pamerkan. Seluruh warga kelas memperhatikan apa yang di pamerkan itu, memberikan tanggapan, kritik, menambah hal-hal yang dirasa masih kurang, dan sebagainya. Pada akhir kegiatan suatu proyek, anak-anak diminta membuat catatan pada buku proyeknya masing-masing. Buku proyek ini sifatnya perorangan sehingga bentuk dan isi buku proyek anak satu dapat berbeda dengan anak yang lain.
4. Keuntungan Pengajaran Proyek
1). Meningkatkan motivasi. Laporan-laporan tertulis tentang proyek itu banyak yang mengatakan bahwa siswa suka tekun sampai kelewat batas waktu, berusaha keras dalam mencapai proyek. Guru juga melaporkan pengembangan dalam kehadiran dan berkurangnya keterlambatan. Siswa melaporkan bahwa belajar dalam proyek lebih fun daripada komponen kurikulum yang lain.
2). Meningkatkan kemampuan pemecahan masalah. Penelitian pada pengembangan keterampilan kognitif tingkat tinggi siswa menekankan perlunya bagi siswa untuk terlibat di dalam tugas-tugas pemecahan masalah dan perlunya untuk pembelajaran khusus pada bagaimana menemukan dan memecahkan masalah. Banyak sumber yang mendiskripsikan lingkungan belajar berbasis proyek membuat siswa menjadi lebih aktif dan berhasil memecahkan problem-problem yang kompleks.
3). Meningkatkan kolaborasi. Pentingnya kerja kelompok dalam proyek memerlukan siswa mengembangkan dan mempraktikkan keterampilan komunikasi ( Johnson & Johnson, 1989). Kelompok kerja kooperatif, evaluasi siswa, pertukaran informasi online adalah aspek-aspek kolaboratif dari sebuah proyek. Teori-teori kognitif yang baru dan konstruktivistik menegaskan bahwa belajar adalah fenomena sosial, dan bahwa siswa akan belajar lebih di dalam lingkungan kolaboratif (Vygotsky, 1978; Davidov, 1995).
4). Meningkatkan keterampilan mengelola sumber. Bagian dari menjadi siswa yang independen adalah bertanggungjawab untuk menyelesaikan tugas yang kompleks. Pembelajaran Berbais Proyek yang diimplementasikan secara baik memberikan kepada siswa pembelajaran dan praktik dalam mengorganisasi proyek, dan membuat alokasi waktu dan sumber-sumber lain seperti perlengkapan untuk menyelesaikan tugas.
Dasar filosofis dan pedagogis dari pengajaran-pengajaran proyek diletakan oleh John Dewey (1859-1952), namun pelaksanaanya dilakukan oleh pengikutnya, utamanya W.H.Kilpatrick.
• J.Dewey menegaskan bahwa sekolah haruslah sebagai mikrokosmos dari masyarakat,oleh karena itu, pendidikan adalah suatu proses kehidupan itu sendiri dan bukannya penyiapan untuk kehidupan dimasa datang.
• Dalam pengajaran proyek anak bebas menentukan pilihannya (terhadap pekerjaan),merancang serta memimpinnya.
• Proyek yang ditentukan oleh anak, mendorongnya mencari jalan pemecahan bila ia menemui kesukaran, dengan sendirinya anak akan giat dan aktif karena sesuai dengan apa yang diinginkannya.
• Dalam pengajaran proyek anak-anak mengerjakan suatu pekerjaan secara berkelompok untuk menghidupkan rasa gotong royong. juga dalam bekerja sama itu akan lahir sifat-sifat baik seperti bersaing secara sportif,bebas menyatakan pendapat dan disiplin yang sewajarnya.
• Perlu ditekankan bahwa pengajaran proyek akan menumbuhkan kemampuan untuk memandang dan memecahkan persoalan secara komprehensif; dengan kata lain, menumbuhkan kemampuan pemecahan masalah secara multidisiplin.
5. Pendekatan
1) Pendekatan Konstruktivisme
Pendekatan pembelajaran proyek ini didukung oleh teori belajar konstruktivisme. Teori belajar ini berdasarkan pada ide bahwa anak didik dapat membangun pengetahuannya sendiri dalam konteks pengalaman. Pendekatan pembelajaran proyek ini dapat dipandang sebagai salah satu pendekatan penciptaan lingkungan belajar yang dapat mendorong anak membangun pengetahuan dan keterampilan secara personal. Mereka akan memahami bahan kajian dengan menggunakan bahasa mereka sendiri berdasarkan apa yang mereka lihat, temukan, dan alami.
2) Pendekatan Inkuiri
Pendekatan yang melibatkan keterampilan pemerolehan berbagai konsep pengetahuan, keterampilan, kemampuan dan nilai-nilai yang dilakukannya sendiri melalui sejumlah proses, seperti mengamati, mencari, dan menemukan.
3) Pendekatan Children Centre
Pendekatan pembelajaran proyek ini beranggapan bahwa pusat kegiatan pembelajaran bertitik tolak pada aktivitas anak. Anak didik memiliki kemampuan sendiri melalui berbagai aktivitas dalam mencari, menemukan, menyimpulkan serta mengkomunikasikan sendiri berbagai pengetahuan, keterampilan, srta nilai-nilai yang telah diperolehnya.
6. Bentuk-Bentuk Pengajaran Proyek
1) Pengajaran Proyek Total
Bentuk ini menghendaki setiap bidang studi (pengembangan) melebur menjadi satu menunjukan keterkaitan dengan bidang studi lain membentuk satu kesatuan yang utuh.
2). Proyek Parsial
Bentuk pengajaran proyek kedua adalah pengajaran proyek parsial (bagian). Dalam bentuk ini terdapat penggabungan antara bidang studi (pengembangan) yang berdiri sendiri dengan bidang studi yang saling berhubungan. Bidang studi yang berdiri sendiri diberikan dengan model pengajaran yang lama (biasa) sedangkan bidang studi yang saling berkaitan diberikan dalam bentuk proyek.
3). Proyek Okasional
Bentuk proyek seperti ini hanya dilaksanakan pada saat-saat tertentu saja yang memungkinkan dilaksanakan pengajaran proyek , baik secara total maupun parsial. Proyek okasional dapat dilaksanakan sebagai salah satu bentu alternatif untuk menanggulangi kejenuhan anak dalam mengikuti model pengajaran pada sekolah lama. Proyek ini dapat dilaksanakan dalam jangka waktu sebulan sekali, pertengahan semester, atau satu semester sekali.
Dalam mendesain pengajaran proyek, tentukan secara jelas terlebih dahulu tema atau pokok masalah yang akan menjadi pusat minat bagi anak. Dengan didasarkan pada minat anak, diharapkan anak mempunyai motivasi serta keingintahuan yang besar terhadap pembelajaran yang akan dilakukan. Berdasarkan tema atau pokok masalah inilah dalam bidang-bidang studi dikaitkan sama lainnya. Penentuan pusat minat anak itu hendaknya didasarkan pada :
a) Adanya ketertarikan anak pada tema atau pokok masalah yang ditentukan.
b) Tema atau pokok masalah hendaknya didasarkan pada perkembangan anak.
c) Tema atau pokok masalah hendaknya ditentukan berdasarkan keadaan lingkungan yang disekitar anak.
d) Tema atau pokok masalah dapat juga ditetapkan berdasarkan isi masing-masing mata pelajaran.
7. Langkah-Langkah Pengajaran Proyek
Model pengajaran proyek dilaksanakan dengan menggunakan lima langkah sebagai berikut :
1) Langkah Persiapan
Guru mempersiapkan tema dan pokok masalah yang akan dilaksanakan dengan menggunakan pengajaran proyek. Setiap isi bidang studi (pengembangan) yang bersesuai dengan tema atau pokok masalah tertentu disusun dan diorganisasikan dalam suatu rencana pengajaran. Dalam langkah pertama, guru hendaknya mengidentifikasi dan merelevansikan isi setiap bidang studi yang akan dilaksanakan dengan pengajaran proyek.
Pada tahap persiapan, guru juga harus mempersiapkan hal-hal yang berkaitan dengan :
a) Pemberian materi yang akan diberikan secara klasikal.
b) Pemberian bahan pengajaran secara tertulis sehingga anak dapat memiliki pemahaman yang agak mendalam berkaitan dengan isi bahan pelajaran.
c) Jenis-jenis tugas yang dikerjakan anak secara kelompok (5-7 orang) atau perorangan.
d) Menetapkan jumlah jam yang akan digunakan pada setiap jam pelajaran.
e) Rencana perjalanan sekolah yang akan dilaksanakan.
f) Rencana pameran yang akan diselenggarakan oleh anak-anak.
2) Pendahuluan
Dalam kegiatan pendahuluan, guru mengadakan percakapan bersama anak-anak secara klasikal tentang tema atau pokok masalah serta bidang studi yang berkaitan sekaligus dapat menjajaki kesanggupan anak dalam mengenal bahan pelajaran serta tugas yang akan dikerjakannya untuk membangkitkan perhatian dan semangat anak-anak untuk melihat, menyelidiki, menyimpulkan dan mengkomunikasikan tentang sesuatu yang ditemukannya. Dalam kegiatan percakapan, guru dapat menulis hal-hal yang sudah dikenal anak serta mengidentifikasikan pokok proyek dalam setiap bidang studi yang akan diselidiki anak.
3) Perjalanan Sekolah atau Survey
Perjalanan sekolah atau survey dilakukan pada beberapa keluarga atau rumah yang berdekatan dengan lokasi sekolah. Masing-masing murid beserta kelompoknya melakukan pengamatan pada berbagai hal yang menjadi persoalan, misalnya bertanya tentang silsilah keluarga, binatang dan tanaman apa saja yang dipelihara, siapa dan jenis penyakit apa yang pernah diderita anggota keluarga, berapa penghasilan dan apa saja belanjanya, kerajinan ap saja yang dikerjakan keluarga tersebut. Agar perjalanan sekolah berlangsung tertib maka guru harus memberikan dan menanamkan tata tertib pada anak ketika akan melakukan kunjungan, misalnya bersikap dan berbicara sopan, membawa buku catatan.
4) Pengolahan Masalah
Setelah melakukan kunjungan tiap kelompok secara tertib kembali ke sekolah dengan membawa hasil pengamatan. Semua data yang dikumpulkan kelompok dilaporkan pada guru disampaikan pada diskusi dan laporan pengamatan tiap kelompok dalam presentasi. Secara bergiliran setiap kelompok memperoleh kesempatan yang sama untuk menjelaskan, menyimpulkan dan menyampaikan berbagai temuan sesuai dengan tugasnya.
Kegiatan pengolahan masalah selanjutnya dalam dilakukan murid, baik secara individu maupun kelompok, misalnya membuat data silsilah keluarga masing-masing, membuat data jumlah keluarga, data penghasilan dan pengeluaran keluarga, mencatat dan membuat data silsilah keluarga masing-masing, membuat data jumlah keluarga, data penghasilan dan pengeluaran keluarga, mencatat dan membuat data kesehatan keluarga, membuat berbagai bentuk keterampilan yang biasa dikerjakan dalam suatu keluarga, membuat peta dan grafik, menanam jenis tanaman, menggambar dan mewarnai, dan memelihara binatang.
Pada tahap ini sangat terlihat kesibukan para murid dalam mengerjakan tugasnya. Dengan demikian kelas memperlihatkan fungsinya sebagai labolatorium dan disinilah konsep ‘lerning by doing’ diwujudkan oleh Kilpatrick sebagai kelanjutan dari pengembangan konsep pendidikan Dewey.
5) Pameran
Pameran dirancang dan dilaksanakan dari dan oleh anak itu sendiri. Anaklah yang menyusun meja kursi menjadi stan pameran. Anak juga yang menghias stan pameran tersebut. Guru lebih banyak bertindak sebagai pengawas dan pembimbing anak-anak dalam mempersiapkan stan pameran sebaik mungkin. Pada hari yang telah ditentukan, para orang tua dan keluarga sekitar sekolah berpartisipasi untuk hadir melihat, mengamati, bertanya dan memberikan berbagai tanggapan pada berbagai stan yang disiapkn anak-anak.
8. Contoh Lain Pembelajaran Proyek
Pembelajaran ini menerapkan pembelajaran integrated learning model. anak-anak harus mempunyai satu proyek (satu topik bahasan yang penulisannya pada sebuah produk, misalnya power point, poster, news letter, dan lain-lain, dan produk itu nantinya akan dipresentasikan). Adapun langkah-langkah Pembelajaran sebagai berikut:
a) Memaparkan judul/topik proyek yang akan dibahas.
Judul ini adalah suatu tema yang menarik dan kontekstual, yang didalamnya akan didalami dengan multidisipliner dalam satu kurikulum pertingkat jenjang kelas. misal:
Judul Proyek - Menjelajah Keanekaragaman Negara Indonesia. Tentukan permasalahannya dengan pertanyaan dasar untuk seluruh design dari proyek ini. Misal -Keanekaragaman Indonesia akankah semakin mempersatukan atau memecah belah?
b) Tinjau proyek dari berbagai kompetensi dasar yang hendak dicapai.
Pelajaran apa saja yang bisa diintegrasikan. Ambil KD dan Indikatornya. Misal :
Ø Pelajaran Agama menyoroti agama-agama di Indonesia: rumah ibadat, hari-hari besar, peraturan-peraturannya dll., usaha untuk membina kerukunan hidup umat beriman.
Ø Pelajaran IPS menyoroti keberagaman suku dan budaya Indonesia
Ø Pelajaran PKn memaparkan pentingnya keutuhan bangsa Indonesia
Ø Pelajaran IPA tentang penampakan alam dan peristiwa alam yang ada di Indonesia, perilaku manusia yang mempengaruhi peristiwa alam. Usaha manusia untuk menjaga kelestarian alam.
Ø Pelajaran Matematika mencari prosentasi jumlah penduduk, jumlah pemeluk agama, data luas wilayah.
Ø Pelajaran Indonesia dipakai untuk membuat laporan setelah melakukan pengamatan
c) Bagi siswa ke dalam kelompok kecil (maksimal per kelompok 5 orang
d) Melakukan perjalanan sekolah ke TMII yang merupakan tempat keanekaragaman Indonesia dalam bentuk mini dan melakukan proses pengamatan
e) Semua data hasil pengamatan dikumpulkan dan dilaporkan pada guru sebelum dipresentasikan.
f) Kelompok akan menyusun laporannya di power point atau poster atau gambar. Dalam hal ini siswa dalam kelompok akan menerapkan metode inquery, mereka akan saling berdiskusi menjawab pertanyaan dasar. Di akhir presentasi dalam produk dicantumkan sebuah kesimpulan jawaban pertanyaan dasar setelah dilihat dari berbagai multidisiplin.
Guru bidang studi yang diintegrasikan berfungsi sebagai fasilitator, membantu kelompok bila kelompok menemui kesulitan.
g) Buat deadline waktu pengerjaannya. Kapan dimulai, kapan presentasi.
h) Presentasi produk atau pemeran.
9. Manfaat Model Pembelajaran Proyek
a) Anak didik lebih mudah dalam menguasai materi yang diberikan
Dengan model proyek ini, anak didik dilibatkan langsung dalam proses perolehana pengetahuan. Anak tidak hanya mendengar dari guru, akan tetapi ia juga memperoleh pengalaman yang tentunya akan selalu teringat dipikirannya proses-proses belajar yang telah dilakukannya sendiri. Pengalaman yang telah didapatnya membuat anak akan lebih mudah memahami serta menguasai materi yang disajaikan oleh gurunya.
b) Anak menjadi kreatif dan berpikir kritis
Dengan melakukan proses pembelajaran secara langsung akan melatih daya berpikir anak menjadi lebih kritis. Rasa keingitahuan anak akan terus membesar sampai ia menemukan jawaban dari segala macam pertanyaan dengan cara mengeksplor bahan belajarnya. Anak akan terus termotivasi untuk selalu menemukan hal-hal yang baru yang dapat ia jadikan sumber pengetahuannya.
IV. PENUTUP
Pendidikan dengan berbagai model dan corak metode aliranya harus berupaya membangun pendidikan yang relevan dan bermutu sesuai dengan kebutuhan masyarakat Indonesia, menyelenggarakan pendidikan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada masyarakat, pendidikan yang demokratis dan profesional, berusaha mengurangi peran pemerintah dalam implementasi pendidikan dan merampingkan birokrasi pendidikan sehingga lebih fleksibel dalam pelaksanaan pendidikan.Konsep pendidikan senantiasa terus berkembang dan menghendaki pembaruan yang disesuaikan dengan irama perkembangan dan kemajuan peradapan serta persoalan-persoalan yang dihadapai umat manusia.
Yang terpenting dari semua itu adalah bahwa pendidikan harus dilaksanakan secara sadar, mempunyai tujuan yang jelas, dan menjamin terjadinya perubahan ke arah yang lebih baik. Sedangkan pembelajaran merupakan aktivitas yang paling utama. Ini berarti bahwa keberhasilan pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses pembelajaran dapat berlangsung secara efektif.
Sistem pendidikan yang dikembangkan di suatu negara hendaknya dapat menjadi wadah yang mantap dan stabil yang member kesempatan dan peluang yang sebesar-besarnya bagi penyelenggaraan pembelajaran yang dapat mengembangkan isi (ilmu pengetahuan dan teknologi) yang seluas-luasnya kepada warga negaranya yang punya hak untuk memperoleh pendidikan yang setinggi-tingginya sesuai dengan kemampuannya.
Dasar filosofis dan pedagogis dari pengajaran proyek diletakkan oleh John Dewy, namun pelaksanaannya dilakukan oleh pengikutnya,utamanya W. H. Kilpatrick. Dewey menegaskan bahwa sekolah haruslah sebagai mikrokosmos dari masyarakat (become a microcosm of society); oleh karena itu, pendidikan adalah suatu proses kehidupan itu sendiri dan bukanya penyiapan untuk kehidupan di masa depan (education is process of living and not a preparation for future living). Ulich 1950;318). Proyek itulah yang menyebabkan mata pelajaran-pelajaran itu tidak terpisah-pisah antara yang satu dengan yang lain. Pengajaran berkisar di sekitar pusat-pusat minat sewajarnya
Pengajaran proyek biasa pula digunakan sebagai salah satu metode mengajar di Indonesia, antara lain dengan nama pengajaran proyek, pengajaran unit, dan sebagainya. Yang perlu ditekankan bahwa pengajaran proyek akan menumbuhkan kemampuan untuk memandang dan memecahkan persoalan secara konprehensif. Pendekatan multidisiplin tersebut makin lama makin penting, utamanya masyarakat maju.
“Proyek” pada dasarnya adalah tugas yang harus dipecahkan melalui suatu rencana dan penyelenggaraan kegiatan secara baik. Hasil kegiatan itu akhirnya dinilai. Permasalahan yang dibahas haruslah yang ada kaitannya dengan kehidupan anak secara nyata, yaitu yang ada di lingkungan atau masyarakat di mana anak hidup. Mulai dari penentuan masalah sampai pada penilaian anak harus di ikuti sertakan secara aktif, baik secara perorangan maupun berkelompok.
V. DAFTAR PUSTAKA
Hasan, F (2000?), Pendidikan dan Pembudayaan, Kumpulan masalah pendidikan di Indonesia.
Ikeda, D. (1994), John Dewey and Tsunesaburo Makiguchi: Confluences of Thought and Action.
Rohman, Arif. 2009. Memahami Pendidikan dan Ilmu Pendidikan. Mediatama: Yogyakarta.
Setyamidjaja, Djoehana. 2002. Landasan Ilmu Pendidikan. Universitas Pakuan Bogor: Bogor.
Sukardjo, M dan Komarudin Ukim. 2009. Landasan Pendidikan. Rajawali Pers: Jakarta.
Syaiful Sagala, Konsep dan Makna Pembelajaran, (cet. V, Bandung: Alfabeta, 2007).
http: // mjeschool.multjay.com/jurnal/item/36
http://www.kajianpustaka.com/2012/10/pengajaran berbasis lingkungan.htm l# ixzz 2 fuLmspqM
http://hudaita.blogspot.com/2009/04/peningkatan-mutu-pembelajaran-dengan.html (di akses tanggal 20 april 2011) (Oleh: Akhmad Huda, S.Pd) ( Guru MTs Ma'arif Sunan Giri Prigen Kab. Pasuruan)
http://hudaita.blogspot.com/2009/04/peningkatan-mutu-pembelajaran-dengan.html (di akses tanggal 20 april 2011) (Oleh: Akhmad Huda, S.Pd) ( Guru MTs Ma'arif Sunan Giri Prigen Kab. Pasuruan)
Comments
Post a Comment