Teori Etika Teleologi dalam Pendidikan
BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Sebagai anggota masyarakat, setiap manusia memiliki kewajiban untuk bertindak sesuai dengan etika yang ada. Misalnya sebagai agen pendidikan, seseorang harus dapat bersikap sesuai dengan etika yang berlaku dalam dunia pendidikan. Agar kita dapat bertindak sesuai dengan etika yang ada, terlebih dahulu seseorang harus mengetahui berbagai teori etika yang ada. Teori etika yang ada dalam kehidupan ini adalah teori etika teleologi, teori etika deontologi, teori etika hak, teori etika keutamaan dan lain-lain.
Salah satu teori yang dapat dipelajari dalam etika yaitu teori teleologi. Teori ini ini berpandangan bahwa suatu perilaku dikatakan etis dilihat dari tujuannya. Apabila tujuan itu baik maka perilaku itu dianggap baik, sedangkan jika tujuannya tidak baik maka perilaku itu dianggap tidak baik. Melalui makalah ini akan dibahas lebih lanjut mengenai teori teleologi baik dari segi pengertiannya, alirannya, tokoh-tokoh yang mencetuskan, serta implikasinya dalam bidang pendidikan.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian teori etika Teleologi ?
2. Apa saja aliran dalam Teleologi ?
3. Bagaimana penerapan teori etika Teleologi dalam pendidikan ?
C. TUJUAN
1. Mengetahui pengertian teori etika Teleologi.
2. Mengetahui aliran dalam Teleologi.
3. Mengetahui penerapan teori etika Teleologi dalam pendidikan.
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGERTIAN
Teleologi berasal dari bahasa kata Yunani yaitu telos (τέλος) yang berarti akhir, tujuan, maksud, dan logos (λόγος) yang berarti perkataan. Jadi, teleologi adalah ajaran yang menerangkan segala sesuatu dan segala kejadian menuju pada tujuan tertentu. Etika teleologi mengukur baik dan buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan tindakan itu atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu.
Istilah teleologi dikemukakan oleh Christian Wolff,seorang filsuf Jerman abad ke-18. Teleologi merupakan sebuah studi tentang gejala-gejala yang memperlihatkan keteraturan, rancangan, tujuan, akhir, maksud, kecenderungan, sasaran, arah, dan bagaimana hal-hal ini dicapai dalam suatu proses perkembangan. Dalam arti umum, teleologi merupakan sebuah studi filosofis mengenai bukti perencanaan, fungsi, atau tujuan di alam maupun dalam sejarah. Dalam bidang lain, teleologi merupakan ajaran filosofis-religius tentang eksistensi tujuan dan “kebijaksanaan” objektif di luar manusia.
Dalam dunia etika, teleologi bisa diartikan sebagai pertimbangan moral akan baik buruknya suatu tindakan dilakukan. Teleologi mengerti benar mana yang benar, dan mana yang salah, tetapi itu bukan ukuran yang terakhir. Yang lebih penting adalah tujuan dan akibat. Betapapun salahnya sebuah tindakan menurut hukum, tetapi jika itu bertujuan dan berakibat baik, maka tindakan itu dinilai baik. Ajaran teleologis dapat menimbulkan bahaya menghalalkan segala cara. Dengan demikian tujuan yang baik harus diikuti dengan tindakan yang benar menurut hukum. Perbincangan “baik” dan “jahat” harus diimbangi dengan “benar” dan “salah”. Lebih mendalam lagi, ajaran teleologis ini dapat menciptakan hedonisme, ketika “yang baik” itu dipersempit menjadi “yang baik bagi diri sendiri.
Sebagai salah satu contoh, mencuri bagi teleologi tidak dinilai baik atau buruk berdasarkan tindakan, melainkan oleh tujuan dan akibat dari tindakan itu. Apabila tujuannya baik maka tidakan itu dikatakan baik, misalnya seorang anak yang mencuri untuk membeli obat untuk ibunya yang sedang sakit, apabila tidak disegerakan akan mengakibatkan sakit yang tambah parah. Atas dasar ini, dapat dikatakan bahwa teori etika teleologi lebih situasional, karena tujuan dan akibat suatu tindakan bergantung pada situasi tertentu.
B. TOKOH-TOKOH TEORI ETIKA TELEOLOGI
1. Plato
Pandangan Platotentang pencapaian hidup yang baik tidak lepas dari teorinya mengenai jiwa dan ide-ide. Untuk mencapai kebahagiaan, jiwa manusia harus sampai kepada dunia ide-ide. Hal ini hanya bisa terjadi dengan cara pengandalan rasio atau akal budi.
2. Aristoteles
Aristoteles menegaskan "kebahagiaan adalah sesuatu yang final, serba cukup pada dirinya, dan tujuan dari segala tindakan...". Dengan demikian, semua tindakan yang bertujuan untuk membahagiakan orang lain atau diri sendiri dikatakan baik.
3. Thomas Aquinas
Filsufsekaligus teologThomas Aquinasmenegaskan bahwa Allah adalah "tujuan" dari segala sesuatu.Dengan demikian, segala sesuatu yang berorientasi kepada Allah dikatakan "baik", dan segala sesuatu yang tertuju di luar Allah dikatakan "jahat".
4. Immanuel Kant
Menurut Kant, setiap norma dan dan kewajiban moral tidak bisa berlaku begitu saja dalam setiap situasi. Jadi, sejalan dengan pendapat Kant, etika teleologi lebih bersifat situasional karena tujuan dan akibat suatu tindakan bisa sangat tergantung pada situasi khusus tertentu.
C. ALIRAN TEORI ETIKA TELEOLOGI
Menurut Kant, dalam pembahasan etika teleologi ini muncul aliran-aliran teleologi, yaitu egoisme etis dan utilitarianisme.
Teori etika Teleologi dibagi menjadi dua, yaitu :
1. Egosime Etis
Egoisme etis adalah pandangan bahwa tindakan setiap orang bertujuan untuk mengejar kepentingan atau memajukan dirinya sendiri. Egoisme bisa menjadi persoalan serius ketika secara signifikan berhubungan dengan hedonism, yaitu ketika kebahagiaan dan kepentingan pribadi semata-mata hanya kenikmatan fisik yang bersifat vulgar. Artinya, yang baik secara moral disamakan begitu saja dengan kesenangan dan kenikmatan.
Seseorang tidak mempunyai kewajiban moral selain untuk menjalankan apa yang paling baik bagi kita sendiri. Jadi, menurut egoisme etis, seseorang tidak mempunyai kewajiban alami terhadap orang lain. Meski mementingkan diri sendiri, bukan berarti egoisme etis menafikan tindakan menolong. Mereka yang egoisme etis tetap saja menolong orang lain, asal kepentingan diri itu bertautan dengan kepentingan orang lain. Atau menolong yang lain merupakan tindakan efektif untuk menciptakan keuntungan bagi diri sendiri. Menolong di sini adalah tindakan berpengharapan, bukan tindakan yang ikhlas tanpa berharap pamrih tertentu.
Contoh 1 : (mungkin masih ada) para petinggi politik yang saling berebut kursi “kekuasaan” dengan melakukan berbagai cara yang bertujuan bahwa dia harus mendapatkannya.
Contoh 2 : R.Budi dan Michael Hartono, misalnya, memiliki kekayaan US$ 11 miliar dan menempati perigkat pertama. Kekayaan ini diperoleh dari antara lain kelapa sawit dan industri rokok (Djarum). Angka kekayaan ini cukup tinggi jika dibandingkan dengan total kekayaan 40 orang terkaya sebanyak US$ 71 miliar. Sesungguhnya sudah bisa melihat karakter egoisme etis pada mereka. Yang mana? Jikalau mereka altruisme, bisa dipastikan tak akan berbisnis rokok. Orang-orang altruisme akan berpikir rokok merupakan komoditas yang “mematikan” banyak orang, maka harus dicegah utnuk memperbanyak alat pembunuh itu. Sebaliknya, egoisme etis mengabaikan rokok yang disepadankan dengan alat pembunuh. Egoisme etis harus meneguhkan hati, “Ini cuma bisnis, jadi harus diabaikan dampak-dampak yang ditimbulkan. Salah sendiri orang lain mau membeli rokok sang pembunuh ini”.
2. Utilitarianisme
Utilitarisme berasal dari bahasa latin utilis yang berarti “bermanfaat”. Menurut teori ini suatu perbuatan adalah baik jika membawa manfaat, tapi manfaat itu harus menyangkut bukan saja satu dua orang melainkan masyarakat sebagai keseluruhan. Sebaliknya, yang jahat atau buruk adalah yang tak bermanfaat, tak berfaedah, dan merugikan. Karena itu, baik buruknya perilaku dan perbuatan ditetapkan dari segi berguna, berfaedah, dan menguntungkan atau tidak. Dari prinsip ini, tersusunlah teori tujuan perbuatan.
Contoh 1 : Industri rokok “menolong” kemajuan olahraga dengan menggelontorkan dana sebanyak-banyaknya, namun berpengharapan para penggila olahraga ini (pemain atau penonton) menjadi perokok aktif maupun pasif. Jelas, menolong yang dilakukan adalah berdasarkan keterpautan kepentingan diri sendiri.
Contoh 2 : Melakukan kerja bakti yang di adakan di lingkungan sekitar, sebagai upaya untuk kebersihan lingkungan dan membuat tempat tersebut juga jadi nyaman dan sehat untuk masyarakatnya.
D. PENERAPAN TEORI ETIKA TELEOLOGI DALAM PENDIDIKAN
Dalam dunia pendidikan, seorang agen pendidikan dapat menerapkan teori etika teleologi ini. Melalui penerapan teori teleologi ini seorang agen pendidikan khususnya guru, dapat bertindak dengan mendasarkan pada tujuan yang ingin dicapainya. Aplikasi teori teleologi ini dapat berupa tindakan sebagai berikut :
1. Pemberian hukuman
Seorang guru dapat memberikan hukuman kepada siswa yang melanggar tata tertib. Pemberian hukuman ini tidak hanya sekedar memberikan efek jera pada siswa tetapi juga bertujuan untuk mendidik siswa tersebut.
2. Penggunaan metode dan media dalam pembelajaran
Tujuan dari penggunaan media dan metode ini adalah untuk mempermudah siswa dalam memahami materi yang disampaikan oleh guru. Walaupun penggunaan media dan metode ini terkadang justru membingungkan siswa, namun menurut teori ini penggunaan media dan metode ini dikatakan etis karena tujuannnya baik.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Teori etika teleologi mengukur baik dan buruknya suatu tindakan berdasarkan tujuan yang ingin dicapai dengan tindakan itu atau berdasarkan akibat yang ditimbulkan oleh tindakan itu, namun ajaran teleologis ini dapat menciptakan hedonisme, ketika “yang baik” itu dipersempit menjadi “yang baik bagi diri sendiri.
Penerapan teori etika teleologi dalam pendidikan adalah guru yang memberikan hukuman kepada siswanya dan penggunaan media serta metode dalam pembelajaran. Sesuai dengan teori etika teleologi, penerapan tersebut dikatakan etis karena memiliki tujuan yang baik.
DAFTAR PUSTAKA
Amanita Novi Yushita._____.Teori Etika. Diakses dari http://staff.uny.ac.id/sites/ default/files/pendidikan/Amanita%20Novi%20Yushita,%20S.E./TEORI%20ETIKA.pdf. Pada 19 Mei 2014 pukul 13.13
Anggriawan, Taufan. 2011. Etika Teleologi. Diakses dari http://taufananggriawan.wordpress.com/2011/10/10/a-etika-teleologi-b-deontologi-c-teori-hak-d-teori-keutamaan-virtue/pada 19 Mei 2014 pukul 14:06.

Comments
Post a Comment