Karakteristik Siswa MI dan SD


Karakteristik Siswa MI

Berdasarkan hasil penelitian Piaget dalam Erman Suherman dkk, bahwa pola pikir anak tidak sama dengan pola pikir orang dewasa. Kemampuan berfikir anak berkembang sesuai dengan umurnya. Sehingga seorang guru selain mengetahui materi yang diajarkan harus mengetahui karakteristik siswanya. Anak usia SD sedang mengalami perkembangan dalam tingkat berpikirnya.
Piaget dalam Atherton, mengemukakan empat tahap perkembangan individu yang berkembang secara kronologis (menurut usia) yaitu: a) Tahap Sensori Motor (dari lahir–2 tahun), pada tahap ini anak memperoleh pengalaman melalui perbuatan fisik yaitu gerakan anggota tubuh dan sensori yaitu koordinasi alat indra. b) Tahap Pra Operasi (2–7 tahun), pada tahap ini pemikiran anak lebih banyak pada pemikiran konkrit daripada pemikiran logis, sehingga jika anak melihat benda yang kelihatannya berbeda maka anak akan mengatakan berbeda. c) Tahap Operasi Konkrit (7–11 tahun), pada tahap ini anak sudah dapat memahami operasi logis dengan bantuan benda konkrit.
Kemampuan tersebut terwujud dalam memahami konsep kekekalan, kemampuan untuk mengklasifikasi dan seriasi, mampu memandang suatu obyek dari sudut pandang yang berbeda secara obyektif, dan mampu berpikir reservibel. Hal ini erat hubungannya dengan matematika. Konsep matematika yang didasarkan pada benda-benda konkret lebih mudah dipahami dari pada memanipulasi istilah-istilah abstrak. d) Tahap Operasi Formal (11 tahun ke atas), pada tahap ini anak sudah mampu melakukan penalaran dengan hal–hal yang abstrak sehingga penggunaan benda–benda konkrit sudah tidak diperlukan lagi.
Uraian di atas dapat dipahami bahwa, anak sekolah dasar (SD) umunya berkisar antara 7 sampai 13 tahun. Menurut Piaget, usia anak sekolah dasar termasuk pada tahan operasi konkrit. Dimana pada tahap operasi konkrit, anak belum bisa berfikir abstrak, namun anak sudah dapat berpikir logis dengan bantuan benda konkrit.
Ciri-ciri anak yang berada dalam tahap operasional konkrit adalah:
Siswa belum mampu melakukan operasi yang komplek, Siswa dapat melakukan operasi logis yang berorientasi kepada obyek-obyek atau peristiwa yang dialaminya, Siswa dapat menalar induktif, tetapi sangat lemah bernalar deduktif masih mengalami kesulitan menagkap ide atau gagasan abstrak.
Ebutt dan Straker, menjelaskan bahwa agar potensi peserta didik dibidang matematika dapat dikembangkan secara optimal maka karakteristik siswa dalam belajar matematika perlu diketahui. Adapun karakteristik tersebut
adalah :
a) Siswa akan mempelajari matematika jika mereka mempunyai motivasi. Implikasinya: Guru memberi kegiatan yang menyenangkan, menantang, yang memberi harapan, yang dihargai keberhasilannya.
b) Siswa mempelajari matematika dengan caranya sendiri. Impilkasinya: Siswa belajar dengan cara dan kecepatan yang berbeda, guru harus tahu kekurangan dan kelebihan siswa.
c) Siswa mempelajari matematika baik secara mandiri maupun kelompok. Implikasinya: Guru memberikan kesempatan belajar secara mandiri atau kelompok, melatih kerjasama, mengajarkan cara mempelajari matematika.
d) Siswa memerlukan konteks dan situasi yang berbeda-beda dalam mempelajari matematika. Impilkasinya: Guru menyediakan media pembelajaran yang diperlukan.
Mengacu pada karakteristik siswa dalam belajar matematika, maka dalam pembelajaran matematika yang bersifat abstrak, siswa memerlukan alat bantu berupa media, dan alat peraga yang dapat memperjelas apa yang akan disampaikan oleh guru sehingga lebih cepat dipahami dan dimengerti oleh siswa.
Urutan pengenalan matematika yang baik kepada siswa adalah sebagai berikut: a) Belajar menggunakan benda konkrit atau nyata. Benda konkrit atau nyata adalah benda–benda yang dapat dipegang, dilihat dan dirasakan oleh anak–anak. Dengan benda–benda yang konkrit, anak bisa langsung menangkap dengan panca indra. Di dalam otak anak belum terdapat jalur informasi mengenai hal tersebut. Lingkungan membantu anak membentuk jalur informasi tersebut dan jalur itu akan terbentuk dengan sangat kuat apabila proses memasukkannya melalui kelima pancaindra secara bersamaan.
b) Belajar membuat bayangan dipikiran.Jika anak sudah bisa memahami relasi suatu bilangan dengan benda konkrit disekitarnya, barulah memakai gambar. Dari yang semula menggunakan benda riil yang dapat dilihat, diraba dan dirasakan pada tahap ini perlahan-lahan mulai terbentu suatu bayangan di otak anak. 
c) Belajar menggunakan simbol atau lambang. Penguasaan langkah di atas penting untuk mengenalkan anak pada konsep lambang bilangan atau simbol. Misalkan angka “lima“ bisa dituliskan dengan suatu simbol atau lambang yaitu “5“. Untuk mengenalkan konsep bilangan saja langkahnya
cukup panjang, dimulai dari menggunakan benda konkrit atau nyata, pembentukan bayangan (visualisasi) di otak, menggunakan gambar atau semi
konkrit, dan barulah pengenalan simbol.
Dalam proses belajar, siswa sebaiknya diberi kesempatan memanipulasi benda–benda atau alat peraga yang dirancang secara khusus dan dapat diotak atik oleh siswa dalam memahami suatu konsep matematika.
Melalui alat peraga yang ditelitinya siswa akan melihat langsung bagaimana keteraturan dan pola struktur yang terdapat dalam benda yang diperhatikannya.

Comments

Popular posts from this blog

Peluang di Era Revolusi Industri 4.0

Manfaat Air Rebusan Daun Sukun Manjur Mengatasi Malaria

KOMET MINOR TERBARU 2019 - TERE LIYE